Seni Kehidupan : Katanya!



Hari ini : Rabu Legi, 09 September 2015

08.08 WIB, Rokoknya sudah satu centi meter mendekati garis, matanya jauh memandang timur, selatan, barat, utara, semua arah mata angin dilihatnya dengan tajam. Duduknya mulai kurang tenang mengetahui rokoknya tinggal satu-satunya itu hampir, belum tahu lagi nanti bisa meroko atau tidak.
Sejenak dia terdiam dan membuah puntung rokoknya itu, tanda kenikmatan duduknya mulai terusik. Ia mulai melepaskan duduknya itu dan bergegas pergi melanjutkan pekerjaannya, ke pasar, terminal, aloon-aloon kota, sekolahan dan lain lain. Trayek yang tidak tentu, sesuai dengan upah yang diterima maka ia akan mengantarkannya. Kakek tua itu, tetap segar dengan badan yang sedikit membukuk, mengantar anak-anak usia sekolah berangkat sekolah. Seusai jam pulang sekolah ia pasti telah menanti di depan gerbang sekolah bertaraf nasional itu. Belum lagi, keramaian pasar yang jadi tempat utamanya, menunggu, mencari, berlari, mengayuh. Begitu pekerjaannya. Tidak banyak yang diterima. Ia hanya bersyukur “Alhamdulillah”
Untuk memulihkan tenaga dan pikirannya terasa cukup, sekedar kopi, the, gorengan, dan tak lupa yang menurutnya menjadi pelepas penat “Rokok”.


_____________________________________________________



08.30 WIB Kemesraan ditunjukkan sebagai contoh bahwa hidup ini indah bila bersamamu. Fakta dari sebenar-benarnya cinta sejati. Mereka tak pernah menjanjikan hidup bergelimang harta, namun cukup dengan kata, hati, dan perbuatan untuk saling mengerti, mengisi, memahami, dan setia. Ikhlas, Nampak jelas dari wanita yang dipinangnya itu. Tak sedikitpun mengeluh, tak harusnya dia ikut membawa karung putih tak berharga itu. Bukan suaminya yang tak tahu diri dengan mengajak istrinya itu. Namun, bukti istri itu mencintai dengan setulus hati, menerima apa adanya suaminya. Ia ikhlaskan untuk mengabdi kepada suaminya sampai akhir hayatnya. “Aku akan selalu bersamamu, dalam suka maupun duka” itu komitmen yang mereka jalani dari pertama menjalin hubungan suami istri. Ia tak pernah malu ia hanya menjadi pekerja yang apa adanya. Namun, ia pernah bertanya “Bagaimana dengan anakku, yang mengetahui aku hanya seorang pekerja yang seadanya, mulung, atau apapun ini?” Namun, ketakutannya itu segera ditepis oleh ucapan tegar, ikhlas dari anaknya. “Aku tidak pernah malu, Pak, Bu!”
Meneteskan air mata, pasti! Setiap kedua orang tua itu mengingat perkataan anaknya itu, kurang lebih 10 tahun yang lalu. Yang prinsip dari hidup mereka adalah doa, mereka ingin anaknya mengeyam pendidikan yang lebih tinggi, menjadi orang yang lebih dari orang tuanya, menjadi orang yang bermanfaat untuk diri, orang tua, masyarakat, bangsa, dan negara. “Pak Bu, ini anakmu yang pergi merantau 10 tahun yang lalu, sekarang saya diangkat menjadi dosen muda di kampus tempat kuliah saya dulu. Terima kasih Bapak, Ibu, ini adalah bentuk nyata dari doa kalian”
“Alhamdulillah, ibu dan bapak kangen sama kamu nak, 10 tahun kamu hanya kasih kabar setiap lebaran saja” Begitu lantang dengan memeluk anaknya yang pergi 10 tahun lalu tangisnya pun pecah, di rumah kardus yang tak layak lagi itu.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Komentar