Hadiah untuk Soekarno



Aku mengintip jelas dari bilik-bilik sisa napas
Brigade tunas yang bertekuk lutut dengan cuaca, iklim baru modernitas,
Pupuk-pupuk yang semakin membuat gersang, justru kuat ditaburkan

Siapa pemilik-mu?
Hey Benih-benih dan tunas-tunas busuk!
Dimana Pak tanimu?, Dimana Bu tanimu?

Lihat tiang yang berdiri menggagahimu
Mereka memanggilmu,
Itu penyangga terkuat tangan ibu Fatmawati
Tidakkah matamu terbuka?

Dimana?
Dimana?
Dimana Hati kecil proklamator kau simpan?
Tidakkah ada?

Aku bukan pujangga besar kahlil gibran
Yang bisa merayumu dengan kata-kata cinta

Aku bukan pemecah kebekuan Bung Tomo
Yang menghangatkan jiwamu untuk bergegas

Aku bukan biola Soepratman
Yang disambung dengan goresan-goresan pena saktinya

Aku bukan bung Karno
Dengan gelar singa podium pada masanya

Sempatkah kau mendengar, Bung Karno berdiri mengagungkanmu
Mengajakmu mengguncangkan dunia

Aku mencoba membuka tabir bilik sisa napas ini
Aku mencoba mencari pupuk yang lebih bagus
Untuk hasil yang lebih bagus?

Cukup kita membuang sisa tabir ini
Yang hampir terbuka seluruhnya
Cukup kita membuang sisa anugerah cinta ini
Dengan cuaca yang sudah menggila – menggila – dan menggila

Kau lihat sekali lagi!
Lambaian tangan ibu fatmawati yang terus memanggilmu
Kau ingat sekali lagi!

Satu kata yang disusun dengan penuh retorika
Satu kata yang ditulis dengan tinta-tinta merah dari semua
Satu kata yang dicoretkan dalam kayu-kayu tipis nusantara

Mari .....
Mari .....
Aku mengajakmu !

Dibawah kibaran panji IPNU

Menyatukan jiwa-jiwa muda
Menghadiahkan guncangan dunia
Untuk Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan semua
dalm persemayaman abadinya.



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Komentar