LULUS !!! “Aku
Arep Konvoi”
Terjadi
setiap tahun, merayakan kelulusan UN SLTP-SLTA sering diwarnai dengan kegiatan
coret-coret baju, konvoi, bahkan tawuran dan lain sebagainya. Siapa yang salah?
LULUS kata yang memang selalu dinanti semua siswa yang telah mengikuti UN baik
SLTP atau SLTA. Namun, konvoi, coret-coret, tawuran seolah menjadi menu wajib
pesta kelulusan. Ironisnya, dalam beberapa surat kabar pun diberitakan tidak
hanya sekedar coret-coret baju, konvoi di jalan bahkan pesta minuman keras,
narkoba, bahkan pesta seks. Ribuan bahkan jutaan siswa hampir dipastikan
merayakan kelulusannya dengan kegiatan tersebut.
Jika
diamati, kegiatan ini terjadi setiap tahun karena telah membudaya pada
masyarakat khususnya pelajar. Di Ponorogo pengumuman kelulusan UN (Ujian
Nasional) 2014 pun diwarnai aksi konvoi, coret-coret baju. Hal ini seharusnya
menjadi perhatian serius oleh semua pihak terutama orang tua siswa. Orang tua
harus menjadi tauladan dan member nasihat kepada anaknya, begitu pula pihak
sekolah harus memberikan sanksi tegas kepada siswa yang melakukan aksi konvoi,
dan coret-coret baju. Sama halnya, pemerintah lewat lembaga kepolisian harus
mengawasi betul kegiatan ini.
Karena
Aksi konvoi yang dilakukan, dinilai sangat menggangu kenyamanan dan keamanan masyarakat.
Disamping itu aksi ini sangat tidak bermanfaat, akibatnya ini akan menjadi
contoh buruk untuk generasi sesudahnya (meniru). Akan lebih bermanfaat ketika
siswa yang lulus UN merayakan dengan hal-hal yang lebih positif, berdoa
bersama, menyumbangkan seragam, buku dan lain sebagainya untuk kalangan yang
lebih membutuhkan.
Dengan
ini, semua pihak diharapkan bisa ikut serta untuk mebudayakan kegiatan-kegiatan
yang lebih bermanfaat. Dan harus dengan pengawasan lebih, agar tidak terjadi
hal-hal yang lebih jauh lagi. Dengan begitu, budaya baru akan dimulai, untuk
generasi yang akan dating.