Nasib Kontrakku

Sungguh, pedih melihat kontrakku yang sudah berjalan 20 tahun ini. Betapa tidak! 2 dasawarsa bumi berputar menjadi materai kontrakku ini. Seolah saksi yang ikut prosesi. Rugi, kata ini yang tepat rasanya untuk melukiskan hal yang sudah berjalan tanpa mendapat hasil sedikit pun. Di otakku rasanya ini sudah membuat bahagia, dengan manajemen kacau, aku seperti pimpinan yang berlagak bos. Padahal, tiada surplus dari hasil aku berdiri. Namun, aku berharap kacau 20 tahun ini dapat berubah. Dengan sisa kontrak yang ada.

Rasanya jika pemilik kontrak ini mencabut kontraknya sesegara mungkin. Sudah dapat dipastikan aku adalah orang yang paling merugi, bangkrut, gulung tikar. Dan segala kata yang cocok untuk orang yang tidak mengetahui ini. Seolah manajer tapi tidak paham manajemen, tidak bisa mengatur, tidak bisa mengontrol, tidak bisa mengevaluasi.  Grafik yang aku dapatkan selama rentang waktu ini bukan suatu peningkatan, melainkan penurunan drastis, sangat drastis, dan sungguh drastis. Jika kelak aku tak bisa melunasi hutang-hutang ini. Celaka, Celaka, Celaka.!

Gudang uang 500 hektar, gudang emas 1000 hektar. Mustahil bisa melunasi ini. Sungguh tak bisa dibayangkan dengan imajinasi awam, bahkan intelek sekalipun. Suaraku dalam hati menggelora, mencuat, bak gunung berapi ingin memuntahkan laharnya dan melepaskan ini semua. Sia-sia yang aku dapat jika hanya memuntahkan luapan lahar panas dalam hati ini, tidak juga bisa melunasi hutang-hutang yang sudah habis. Jika waktu 20 tahun kontrak ini kembali ke 13 tahun yang lalu, akan aku pelajari ilmu manajemen sempurna dari pakarnya sekalipun. Ingin ku jelajahi samudra ilmu, untuk tidak aku terlalu banyak melunasi hutangku.

Waktu adalah pedang, yang sudah menusuk tubuh sendiri sampai terasa tembus sampai merontokkan tulang belakangku. Bagaimana tidak terjadi? Aku yang bermain-main dengan pedang panjang dan mengenai aku. makanya aku tidak perlu bertanya ini salah siapa. Aku.

Waktu adalah uang, benar uang. Yang selama ini telah aku hambur-hamburkan meninggalkan sesuatu yang wajib dari sedikit uang yang aku punya. Foya-foya, kaya raya, itu hampir impian semua syahwat dunia yang selama ini aku pun punya. Kini uangku telah habis, bahkan menumpuk hutang yang belum tahu nanti akan terlunasi atau tidak. Pun wajibnya aku tidak perlu bertanya, salah siapa uang ku bisa habis? Aku.

Selanjutnya, aku hanya bisa berharap, meminta tanpa berhenti. Agar aku mendapat kontrak lebih untuk setidaknya melanjutkan usaha yang selama ini tak ada hasil. Justru menjadikan hutang. Dan agar terlunasi semua hutang-hutang ini. Semoga aku diberi jatuh  tempo yang cukup lama. Akan aku mengembangkan usaha ini, hingga kelak dapat diteruskan dapat dinikmati oleh orang lain. Aku tidak berharap waktu 20 tahun kemarin terulang lagi, atau di ulangi lagi. Namun, dengan sisa kontrak yang ada AKU HARUS BERUBAH.

Aamiin Yaa Rabb al 'alamiina

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Komentar