Ketika SAHABAT adalah lentera kesunyian gelap

Ketika SAHABAT adalah lentera kesunyian gelap, dia menerangi kita. Ketika SAHABAT adalah rangkaian kata indah, bak do'a yang terlantunkan lepas dari hati. Dengannya aku mengenal, dengannya aku paham, dengan aku mengerti. Persahabatan yang kini jauh, seolah penyesalan dari sebuah pertemuan. Terasa sungguh, mengerti dan paham arti sebuah kehilangan, bukan barang mahal yang dibarter dengan logam. Tapi, ia adalah makna dari sebuah kebersamaan, bukan untuk dikenang karena usang bukan untuk dibayangkan dengan imajinasi hiperbola. Namun, untuk dikenal selamanya. Ini adalah dokumentasi kebersamaan kita, yang menjadi saksi bahwa kita pernah berjumpa, saling sapa, dan bersama. Sahabat/i perkenalan kita bukan untuk perpisahan melainkan jalan untuk kebersamaan yang akan hidup selamanya. Ini bukan sajak hiperbola, personifikasi, atau lainnya, seperti materi Bahasa Indonesia "Bu Sri Wahyuni". Persahabatan kita bukanlah matematika "Pak Wasis" yang penuh dengan rumus-rumus Volume-Logaritma-atau-Statistika pun matriks yang menjadi kenangan masa SMA kita. Namun, aku setuju kalimat "Pak Taufiq" dengan ringkasnya Sedikit waktu tapi continue. Ketika Sahabat/i kita jauh lantangkan dalam hati kita kalimat jelas dari Wali kelas kita "JEMPUT BOLA". Pun terkenang jelas dalam ingatanku tentang "Pak Ali Mashudi dan Pak Hamida", dengan program hafalan-nya, menghafal dari satu ayat ke ayat lain dari al-Qur'an juga al-Hadits. Begitu persahabatan kita, kita menghafal khas dari sahabat/i kita, memahami dan mencoba saling mengerti. Atau mengingat gaya nyentrik "Pak Nyamiran" yang penuh ungkapan motivasi, yang paling aku ingat "Lebih baik mencoba lalu gagal, daripada gagal untuk mencoba" dan "Pelaut yang ulung tidak terlahir di lautan yang tenang".

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Komentar